Senin, 18 September 2017

Value Friends

After almost 1 year..... akhirnya tiba juga dengan apa yang dinamakan perpisahan. Nggak dikira akan semenyedihkan itu, ya perpisahan yang mana yang tidak menyakitkan dan menyedihkan. Di hidup ini kita akan selalu dipertemukan dengan orang-orang baru dan tentu akan ada pula perpisahan dengan mereka. Life is just about hello and goodbye. A simple hello could lead you to a million things in your life. Jadi rupanya tahun ini sudah satu tahun Maharani lulus dari kampus, hampir satu tahun bekerja dan sekarang bekerja di tempat baru. I'm not a fresh graduate anymore, i'm a one year experience employee.
Apa sih yang bikin sedih? Berpisah sama teman-teman di tempat kerja sebelumnya yang selama hampir satu tahun dari Senin - Sabtu dari jam 8 pagi sampai 16.30 bertemu mereka terus. Terus sekarang harus meninggalkan mereka, berniat untuk tidak menangis saat berpisah tapi rupanya memang perpisahan harus selalu diibaratkan dengan tangis. Pecah juga tangisku saat mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Waktu harus peluk mereka sebagai tanda perpisahan terakhir kalinya, saying goodbye is always the hardest part of my life. Sekalipun selama di tempat kerja sering banget ngeluh bareng yang lain karena atasan kita yang selalu bikin geleng-geleng kepala, dan geng heboh yang suka banget rumpi, negative vibes yang ada bisa ketutup sama adanya teman-teman yang menyenangkan. But life keeps on turning, Maharanni harus berkembang dan nggak bisa selamanya ada disana, harus mencari ilmu lebih dan lebih lagi.
Sedih sih harus berpisah sama mereka yang biasanya selama 6 hari dalam seminggu bahkan lebih sering bertemu mereka daripada bertemu keluarga di rumah, di rumah cuma numpang tidur dan makan, lalu sisanya seharian aku habiskan bersama mereka di kantor, bertemunya mereka lagi, karena ruang lingkupnya kecil dan nggak banyak orang jadi ya otomatis kedekatan pun lebih intim sama mereka. Beruntung nggak sih pernah berada disini? Beruntung karena bisa dipertemukan dengan teman-teman yang baik dan support each other oleh Allah, karena setiap pertemuan pasti ada alasannya, everything happens for a reason.
Ilmu agama aku yang masih amat sangat kurang, masuk ke tempat ini bikin kadang minder karena orang-orang yang ada disini ilmu agamanya lebih banyak dari aku, tingkatan belajar agama mereka lebih dari aku, kadang malu kalau nggak bisa mengimbangi atau sedikitnya ikut mengerjakan apa yang dikerjakan juga oleh mereka. Selalu saling mengingatkan tentang ilmu agama, selalu saling mengingatkan tentang hal-hal baik, selalu saling mengingatkan jika melakukan salah, ditegur jika salah, dikoreksi jika salah, supporting each others and sharing the good things. Kadang sering aja ada di kantor yang nyeletuk "kieu nya ai rakyat jelata mah, seuseurian weh happy teu boga duit jeung lieur gawean ge" (gini ya kalo jadi rakyat jelata, ketawa-ketawa aja bahagia walaupun nggak punya uang dan pusing karena kerjaan. From this place i've learned so much things.
Bertemu dengan tipe-tipe orang yang berbeda dari segi latar belakang dan pola pikir bikin jadi tahu banget kalau pengalaman hidup orang-orang itu berbeda, setiap orang harus berjuang masing-masing di dalam hidupnya untuk tetap bertahan hidup. Yang membedakan dari tempat kerja yang lain mungkin karena disini mengusung konsep islami sehingga ibadahnya pun tidak akan sama dengan di tempat lain, disini kami terbiasa sholat berjamaah bersama dan mengadakan tahsin di setiap minggunya. Dan selalu memegang konsep libatkan Allah dalam segala urusan.
Disini yang kerja nggak semuanya masih anak muda, ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya anak 1, ada yang sudah punya anak 2 ada juga yang malah baru lulus sekolah SMA. Kami sering banget berbagi kisah pelik kehidupan masing-masing dan bikin belajar bahwa ya kita nggak bisa kalau cuma diam saja menunggu rezeki. Lokasi kantor ini di Jalan Pameuntasan, Kecamatan Kutawaringin, Kopo, Kabupaten Bandung. Setiap orang yang bekerja disini tentu berasal dari domisili yang berbeda, bahkan ada 2 orang yang bertempat tinggal di daerah Cibiru yang kalau di cek pakai Gojek kurang lebih jaraknya adalah 26km dan menghabiskan waktu 1,5 jam dalam perjalanan. Cara Allah mengatur rezeki umatnya memang bermacam-macam, mungkin lelah dihadapkan dengan perjalanan jauh lalu pekerjaan yang banyak, tapi demi bertahan hidup dan demi membiayai keluarga tentu mau tidak mau harus dilakukan. Allah tidak akan menguji manusia melebihi kemampuannya.
Semenjak pertama kali masuk kerja tanggal 20 September 2016, entah sudah berapa kali berganti formasi team yang keluar dan masuk. Selama nyaris 1 tahun bekerja, orang-orang yang bertahan hanya tersisa 6 dari sekitar 13 orang.
Mari ku ceritakan satu persatu..
1. Kang Ahmad
Ayah dari dua orang anak yang harus rela jauh dari anak dan istri demi mencari nafkah, ter-struggle setiap minggu selalu mudik ke Cianjur. Dari kang Ahmad aku belajar banyak banget konsep hidup yang terkadang tidak dapat ditebak, apalagi pengalaman hidup beliau bertemu istrinya sampai menikah dan punya anak. Konsep rezeki yang bener-bener unexpected. Beliau ini sosok hebat, selalu dikejar target sales dan paling jago menghadapi segala tipe konsumen dan agen dari yang baik sampai yang rewel sekalipun. Hobi keluar kota untuk nganvas barang jualan, selalu banyak porsi makannya dan kadang makan nasi pakai mie ayam :(
Kang Ahmad ini ilmu marketingnya sudah mahir, secara beliau lebih dari 5 tahun menjadi marketing dan di tahun ini ternyata memutuskan untuk wisuda juga dari kantor ini. Terimakasih banyak kang sudah mamu membimbing aku selama ini, sudah mau memaklumi segala tingkah laku aku hahahaha semoga selalu sukses dalam langkahnya.
2. Nadya
Si anak kecil yang baru bergabung di awal tahun 2017 ini, awalnya nggak suka karena berisik banget dan so jutek tapi akhirnya malah nempel terus kemana-mana bareng. Sharing makan siang bareng, jajan seblak bareng, ke borma bareng, beli baso bareng, potong rambut bareng, jarambah bareng, curhat bareng, mikirin jodoh juga bareng. Sedih sih biasanya hari-hariku direcoki anak ini terus sekarang hidupku hening, nggak ada yang suka tiba-tiba ngeshare artikel nggak penting, nggak ada yang suka tiba-tiba ketawa sendiri ngetawain jokes receh, nggak ada yang anteng nonton film sendirian, nggak ada yang suka tiba-tiba ngetawain hal nggak penting di instagram, nggak ada yang minta-minta tukeran film dan minta request lagu dari spotify. So emosional, hariku hampa tanpamu.. hahahaha :')
3. A Ega
Nama doski Tegar Raka, si selebgram. Yang dari waktu pertama masuk satu-satunya manusia yang paling jarang berinteraksi denganku kecuali kalau nanya bahan. Dulu ku kira orang satu ini jutek banget, tahunya lama-lama sering ngobrol eh receh juga bercandannya, garing, dan suka nggak jelas ngomongnya kayak minion. Si fotografer handal yang suka dapat banyak job di luaran sana, tar aku prewed dan kewong fotoin ya gaes :( hahahahaha. Beliau yang suka mengajariku trik-trik perkomputeran dan editing foto. Si diam-diam menghanyutkan.. Sukses selalu lho karirnya, pak.
4. Mas Ingsan
Om om yang masuk di pertengahan tahun ini, dulu di awal sempat nyeletuk "yuk taruhan bakal tahan berapa lama orang ini" terus pada jawab "paling satu bulan, paling dua bulan, paling tiga bulan" tahunya sampai detik ini dia masih bertahan hahahaha. Manusia di balik perbaikan gizi anak-anak kantor, karena bekal makan masakan istrinya selalu enak dan mengenyangkan. Partner debatku dan partner nyinyir setitik, fans nya incess syahrini, si yang selalu mengingatkan dan sharing ilmu-ilmu agama. Thank you so much mas, semoga bisa selalu saling mengingatkan dalam kebaikan.
5. Naura
Join di akhir bulan Januari 2017, pertama kali keki banget sama orang ini karena suka so akrab dan kok rese hahahaha lama-lama karena kepolosannya dia malah sering di bully orang-orang di kantor. Si yang ngebet pengen segera nikah. Segerakan ya sis..
6. Teh Ani
Ibu rumah tangga yang juga meniti karir sebagai staff gudang *halah* yang hobinya ngomel-ngomel dan menggerutu, yang hobinya facebookan dan update status. Yang hobinya curhat kehidupan padaku, dah ibuk, semoga rezekinya lancar terus biar bisa bayar SPP-nya Arya. Hahahaha.
7. Mas Gimun
Bapak-bapak satu ini tempatku nebeng pulang ketika tidak dijemput papa dan tempatku nebeng pulang saat mau ke Kota. Yang selalu bercerita mengenai perjalanan panjang dan pengalaman di hidupnya, dari mulai jadi chef sampai berakhir menjadi kepala gudang saat ini. Yang sering banget dijadiin bercandaan anak-anak muda menyebalkan ini. Terimakasih atas segala kebaikannya mas, semoga dilimpahkan rezeki oleh Allah selalu. Semoga bisa menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya.
8. Teh Lala
Yang selalu dipusingkan dengan urusan produksi dan draft barang di kantor, yang selalu punya pasokan makanan selama ini. Yang kalo pergi kemana-mana biasanya balik lagi selalu bawa makanan.
Mas Nur, Mang Entis dan Mba Tuti geng steam yang suka rempong. Teh Ryana dan Kang Iqbal anggota yang baru..
Why i called them as a value friends? Karena ternyata di umur ini memang masa-masa dimana mencari teman yang nggak sekedar teman, tapi teman yang bisa menjadi bekal kita sampai hari tua nanti. Yang akan saling mengingatkan satu sama lain, selama bersama mereka pasti mereka mengingatkan kalau ada yang salah, sharing ilmu-ilmu agama padaku yang masih sangat awam ini. Teman-teman yang insha Allah sholeh dan sholeha dan kelak akan dipertemukan di Jannah-Nya. Aamiin Allahuma Aamiin. Semoga nggak putus silaturahmi, semoga rezeki kita lancar selalu dan masih akan dipertemukan lagi di kemudian hari di lain waktu. Semoga berbahagia selalu. Terimakasih sudah jadi teman yang baik dan menyenangkan, terimakasih sudah selalu mau mengingatkan dan mengoreksi jika berbuat salah, terimaksih untuk segala ilmu dan pengalamannya. I love you so much, see you when i see you..



With Love,

Mahar

Rabu, 09 Agustus 2017

Being someone priority?

Belakangan ini sedang merasa ada di dalam fase bahwa lingkungan pertemanan ini semakin mengerucut, semacam seleksi alam. Berapa ratus, berapa ribu atau ratusan ribu jumlah teman di media sosialmu nyatanya takkan menjamin bahwa di dunia nyata mereka pun nyata menjadi temanmu. Di fase ini saya merasa bahwa memang memiliki banyak teman itu baik bagi kita, tapi pada akhirnya yang selalu ada bagi kita yang kita butuhkan. Setelah lulus sekolah dan kuliah, lingkungan pertemanan ternyata makin mengerucut. Alasannya adalah karena peretemuannya berkurang, komunikasinya juga berkurang, dari yang asalnya setiap hari bisa bertemu, nah ini bahkan sebulan sekali pun belum tentu bisa bertemu.
Hidup mah gausah ribet banget meduliin dan ngurusin orang lain, belum tentu dianya peduli dan mikirin kita. Sendiri ajalah.. Toh mati juga sendiri ga akan bareng bareng.. Orang lain mah gitu, ingin diinget, dipikirin, dipeduliin tapi ga peka sama sekitarnya. Kerjaannya cuma mikirin diri sendiri, orang lain diharusin ngikutin maunya, orang lain disuruh ngikutin jalan hidupnya, orang lain harus semau kamu kalo ngapa-ngapain.. Ya kan idup mah emang gitu, tuhan yang berencana, manusia yang ngejalanin, orang lain yang komentarin. Ah selo bae..

Rabu, 02 Agustus 2017

About ur friendship..

Salah gaul? Pernah mikir tentang hal itu? Pasti pernah lah..
Belakangan ini, saya lagi hobi mengamati lingkungan pergaulan di sekitar saya, dari mulai yang hedon parah sampe yang hemat abisss. Dari mulai yang tiap hari nongkrong di café dan resto sampe yang kuliah pulang kuliah pulang biar irit. Ada juga yang bergaulnya begitu, anak malam banget, hacep mele ehehehehe

Senin, 31 Juli 2017

Good Bye, July.

Bulan Juli yang akan berlalu dan digantikan dengan bulan Agustus, bulan Juli tahun ini terasa berbeda karena diawali dengan suasana duka. Iya tahun ini pun lebarannya berbeda, keluarga besar berkumpul di rumah untuk silaturahmi tapi dengan alasan besar yaitu berduka karena kematian. Tahun ini kami sekeluarga besar tepat di hari pertama lebaran harus kehilangan salah satu orang yang kami sayangi, Opah saya, paman dari Ayah saya yang telah mengidap sakit stroke bertahun tahun lamanya. Meninggalnya tepat di hari pertama lebaran sesuai tanggal masehi pada pukul 21.05 yang dalam Islam jatuhnya sudah tanggal 2 syawal. 
Di pagi hari di hari pertama lebaran waktu itu, saya sekeluarga beserta para tetangga pun berkunjung untuk menengok Opah. Biasanya saya tak pernah mau melihat dan menyentuh sekali pun. Karena apa? Tak pernah tega, selalu sedih melihat kondisinya dan tak pernah bisa untuk tidak menangis, tapi kali itu entah mengapa rasanya ingin sekali melihat kondisinya. Dan sedih ternyata hari itu adalah hari terakhir saya melihat Opah. Biasanya di hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun sebelumnya saya masih bisa berinteraksi dengan beliau walaupun sudah tidak jelas apa yang disampaikannya. Tapi saya mengerti beliau ingin berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Beliau yang semasa sakit masih selalu ingat untuk beribadah, sholat meskipun hanya di atas kasur dan dalam kondisi berbaring. Malu, kadang kita yang sehat saja masih suka lalai dalam beribadah, tetapi yang dalam kondisi sakit saja masih ingat sholat walaupun sulit kondisinya. Karena Allah tidak pernah mempersulit makhluknya, kita diperkenankan beribadah dalam kondisi apapun.
Pagi itu rasanya berbeda, hanya melihat beliau berbaring dengan kondisi badan yang sudah kurus karena sakit, terasa luka, air mata mengalir begitu saja, tersedu-sedu sembari sebisanya membaca doa-doa yang dihafal. Beliau hanya terbaring di atas kasurnya tanpa respon, pagi itu sempat terbesit apakah sebenarnya beliau tak sadarkan diri? Namun saat diusap tangannya suhu tubuhnya masih hangat. Dengan sebisa-bisanya membacakan Al-Fatihah sebanyak mungkin. Sedih, sampai di rumah rasanya masih tak tega, masih meneteskan air mata. Entah mengapa kondisi Opah tersebut seolah menjadi firasat saya dan keluarga untuk menghubungi anggota keluarga yang lain agar segera datang berkunjung kemari dan melihat kondisi Opah. Setiap orang merasakan hal yang sama, ketika selesai melihat Opah semuanya meneteskan air mata.
Selepas itu kami melewati hari pertama lebaran dengan mengunjungi rumah sanak saudara dan seperti biasanya saya berkunjung ke rumah Nenek, Ibu dari Mama saya dan siang harinya hingga sore berkumpul di rumah Uwa. Di sore hari ketika sedang bercanda dan mengobrol dengan saudara yang lain tiba-tiba saya mendapat telepon dari Oma saya yang mengabarkan bahwa Opah saya nafasnya sudah putus-putus (ngap-ngapan) ditambah suara yang bergetar menahan tangis dari seberang sana. Panik, mendadak membubarkan diri untuk segera pulang.
Sampai di rumah sekitar pukul setengah 5 sore. Selepas sholat maghrib Papa saya tidak ada di rumah dan katanya ke rumah Opah menemani Opah sembari membacakan doa-doa yang dia hafal. Saya dan Mama di rumah sedang menonton film di televisi sampai akhirnya tiba-tiba Papa pulang ke rumah membawa kabar bahwa Opah sudah pergi, sudah meninggal dunia. Saya dan Mama yang saat itu sedang tertawa menonton film komedi di televisi seketika terdiam dan gemetar. Masih tidak percaya bahwa kabar itu harus datang di malam itu. Malam itu langsung memberi kabar pada sanak saudara untuk segera datang dan menyebarkan lagi kepada sanak saudara yang lain. Malam itu pula jenazah segera dimandikan, dikafani dan dishalatkan.
Esok paginya jenazah dimakamkan dan dishalatkan lagi sebelum dimakamkan, saya termasuk salah satu yang ikut dalam prosesi pemakaman. Mengapa saya mau ikut karena saya ingin melihat Opah untuk terakhir kalinya sebagai penghormatan, sedih... awalnya hanya meneteskan air mata tapi lama-lama menangis juga sembari tersedu. Itulah mungkin alasan mengapa wanita-wanita lebih baik tidak ikut dalam prosesi pemakaman karena diperlukan mental yang kuat untuk menahan rasa sedih melihat seseorang yang disayangi pergi dan rasa sakit karena kehilangan yang mendalam. Pagi itu setiap orang harus ikhlas melepas kepergian Opah, dan hidup kita di dunia berakhir di liang lahat sana. Setelah kita meninggal takkan ada harta benda yang kita bawa, kecuali amal ibadah selama hidup di dunia. Saya sebagai salah satu cucu yang merasa dirawat sejak kecil begitu merasa kehilangan karena meskipun bukan kakek kandung, namun beliau sangat perhatian dan sayang kepada saya, serta seringkali mengingatkan mengenai banyak hal baik.
Beliau orang yang sangat baik, amat sangat baik terhadap siapapun. Beliau dicabut nyawa dengan kondisi yang sangat tenang di tengah penyakit yang telah dideritanya selama bertahun-tahun. Semoga sakitnya menjadi penggugur dosa-dosanya selama ini. Dan tidak terasa, sabtu ini tanggal 5 Agustus sudah hari ke 40 semenjak kepergian Opah.. Semoga amal ibadahnya semasa hidup diterima oleh Allah SWT dan diterima iman islamnya oleh Allah SWT. Aamiin Allahuma Aamiin..

You'll be missed, Opah..
 

Blog Template by BloggerCandy.com